Bolehkah makan sushi dengan tangan?
Boleh. Sushi nigiri bisa dimakan dengan jari atau sumpit; keduanya hal yang biasa.
JAPAN MANNERS LAB · Ensiklopedia Tata Krama Jepang
Panduan bergambar tentang tata krama Jepang dan "alasannya", dengan kuis yang seru.
Sedang berwisata? Buka Mode wisataBahkan orang yang tinggal di Jepang mungkin belum tahu.
Boleh. Sushi nigiri bisa dimakan dengan jari atau sumpit; keduanya hal yang biasa.
Menyeruput mi umumnya diterima, tetapi tidak wajib. Makan dengan tenang juga tidak apa-apa.
"Itadakimasu" sebelum makan dan "gochisosama" sesudahnya adalah kebiasaan yang luas, bukan hukum atau aturan. Mengucapkannya adalah cara baik menunjukkan terima kasih.
Kursi prioritas untuk lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, orang yang membawa anak kecil, dan yang membutuhkan. Berikan bila ada yang membutuhkan.
Makan ekiben (bento stasiun) di Shinkansen dan kereta ekspres terbatas sudah biasa. Di kereta komuter, kereta lokal, dan kereta bawah tanah, orang umumnya tidak makan.
Tergantung fasilitasnya. Ada yang menolak dan ada yang menerima tamu bertato, jadi periksa terlebih dahulu.
Di onsen dan pemandian umum biasa, orang berendam tanpa busana, tanpa baju renang. Namun beberapa fasilitas mewajibkan baju renang atau pakaian mandi khusus.
Tidak. Di kuil Shinto, bentuk dasarnya dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, dan sekali membungkuk; di vihara, katupkan tangan dengan tenang tanpa bertepuk.
"Dua kali membungkuk, dua tepuk, sekali membungkuk" adalah bentuk dasar di banyak kuil Shinto, tetapi beberapa kuil punya cara sendiri. Di vihara Buddha, orang tidak bertepuk.
Tidak ada jumlah tertentu untuk persembahan (osaisen). Berapa pun boleh; ini diberikan sebagai ungkapan perasaan.
Lepas sandal rumah sebelum masuk ruang bertatami. Berjalanlah di tatami dengan kaus kaki atau bertelanjang kaki.
Sandal toilet hanya untuk di dalam toilet. Lepaskan saat keluar dan kembali ke sandal Anda sendiri.
Ketepatan waktu dihargai, tetapi saat bertamu ke rumah banyak orang menghindari datang terlalu awal dan berusaha tiba sekitar waktu yang disepakati.
Ya, saat menyapa atau berterima kasih. Bagi wisatawan, anggukan atau bungkukan ringan (eshaku) hampir selalu cukup.
Tidak. "Sumimasen" juga dipakai untuk memanggil orang, meminta jalan, dan berterima kasih.
Tempat sampah umum jarang ada di Jepang, jadi bawa sampah Anda dan buang saat menemukan tempat sampah yang sesuai, atau bawa pulang ke penginapan.
Tidak dilarang secara nasional oleh hukum, tetapi di tempat ramai orang diharapkan berhenti untuk makan demi kenyamanan orang lain. Beberapa daerah wisata meminta pengunjung tidak melakukannya.
Memberi tip umumnya bukan kebiasaan di Jepang, baik di restoran, taksi, maupun hotel. Ucapan terima kasih sudah cukup.
Jika ada baki di kasir, orang biasanya meletakkan uangnya di sana. Namun itu bukan aturan, dan staf kadang menerima uang dengan tangan.
Jangan berikan uang tunai begitu saja: masukkan ke amplop khusus dan serahkan dengan kedua tangan. Untuk pernikahan, biasanya dipakai uang baru.
Jumlah dan langkah persembahan dupa berbeda menurut aliran Buddha. Jika ragu, cukup ikuti orang di depan Anda, biksu, atau ketua keluarga yang berduka.
Obon adalah acara menyambut arwah leluhur pulang dan menghormati mereka. Sebagian besar daerah merayakannya pada pertengahan Agustus, sebagian pada pertengahan Juli.
Pilih jawaban
Hindari menancapkan sumpit tegak di nasi. Saat jeda makan, letakkan di tatakan sumpit atau melintang di tepi piring.
Menelepon di kereta dan bus umumnya dihindari. Setel ponsel ke mode senyap ("manner mode").
Ya. Bersihkan badan di area mandi dan bilas semua sabun sebelum masuk ke kolam.
Tidak. Di kuil Shinto, bentuk dasarnya dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, dan sekali membungkuk; di vihara, katupkan tangan dengan tenang tanpa bertepuk.
Ya. Di sebagian besar rumah Jepang, sepatu dilepas di pintu masuk (genkan) sebelum masuk.
Ya, saat menyapa atau berterima kasih. Bagi wisatawan, anggukan atau bungkukan ringan (eshaku) hampir selalu cukup.
Tempat sampah umum jarang ada di Jepang, jadi bawa sampah Anda dan buang saat menemukan tempat sampah yang sesuai, atau bawa pulang ke penginapan.
Memberi tip umumnya bukan kebiasaan di Jepang, baik di restoran, taksi, maupun hotel. Ucapan terima kasih sudah cukup.
Japan Manners Lab memperkenalkan kebiasaan Jepang dari sudut pandang kepedulian terhadap orang lain. Kami membedakan hukum, aturan fasilitas, dan kebiasaan umum, serta memeriksa sumber resmi.